Bertempat di Safira Butik Hotel, Bogor aku dan teman-teman Task Force PSPU sedang menjalani workshop, tiba-tiba ponselku berdering menandakan sms masuk. “Telah terjebak dalam kondisi kelaparan, air naik sampai 2 meter, Ibu dan Sri”, demikian bunyi sms yang dikirim dari HP Nokia 6210 milik ibu.
Praktis setelah menerima sms itu aku ‘gak konsen lagi workshop. Malamnya setelah pulang aku ‘gak bisa tidur, walaupun jam telah menunjukkan pukul 21.30 WIB. Gimana bisa tidur, lha wong ibu kelaparan. Semula aku sudah melarang ibu untuk pulang ke Bekasi mengingat genangan sudah selutut orang dewasa di daerah Rawa Kuning, Cakung. Biasanya kalo di Rawa Kuning depan Tinja (eh maaf, nama daerahnya disebut orang dengan sebutan tinja karena disitu ada Pusat Pengelolaan Air Kotor Pemprov DKI Jakarta) sudah setinggi lutut dapat dipastikan Komplek Harapan Baru Bekasi tempat Bapak dan Ibu bermukim terendam juga. Namun tekad ibu sudah bulat. Keinginan untuk menyematkan surat-surat penting seperti ijazah SMUnya Depoy (my sister yang lagi ambil S2 di Jepun), Sertifikat, BPKB, dll begitu kuat sehingga seruan kami sudah tidak digubris lagi.
Dini harinya aku minta Nuril, istriku tercinta, untuk memasak. Yang kuingat dia haya masak nasi, telur ceplok dan beberapa anget-angetan masakan Minang yang kubeli malamnya. Maklum waktunya terbatas. Jadi masaknya cukup yang instan-instan saja.
Ransel kapasitas 20L kuisi penuh dengan makanan yang dimasak oleh Nuril. Tentu saja setelah dipacking water proof. Aku berhitung dan yakin setidaknya beberapa tetangga bisa turut menikmati masakan ala kadarnya ini. Berdua bersama bapak yang kebetulan memang sedang di Bogor kami meluncur dari Bogor ke Bekasi, sebelum adzan shubuh berkumandang . Tak lupa kami penuhi tangki bensin untuk jaga-jaga sekaligus shalat shubuh di Rest Area Sentul arah Jakarta. Keluar dari tol Jagorawi kami harus sedikit mengambil rute berputar dengan melewati tol dalam kota untuk keluar dan berputar di pintu Pacoran. Hal ini kami lakukan untuk menghindari genangan di daerah Cawang sebelum masuk ke tol Cikampek untuk keluar melalui Pintu Gerbang Tol Bintara.
So far so good. Kami belum menemukan genangan yang cukup berarti. Sampai di daerah Rawa Kuning tadilah, batas terakhir yang bisa dilalui mobil. Walaupun jarak ke arah komplek masih sekitar 3 km lagi, kuputuskan untuk mulai observasi genangan yang ada di hadapanku.
Orang-orang berkerumun di bibir genangan. Kurang lebih 500 meter terbentang. Kedalaman belum ada yang tahu pasti. Namun dari atap yang menyembul di atas genangan, aku memperkirakan setidaknya 2 meter-an. Kebetulan ada 2 orang berseragam Gema Nusa, yak! persis seperti yang kuduga. Mereka adalah relawan yang juga mau assessment wilayah Harapan Baru. Kuajak meraka berdua untuk menerobos genangan secara manual (berenang!). Satu diantara mereka terlihat keberatan sementara yang satu lagi terlihat ragu-ragu. Maklum orang orang yang berkerubung di dekat kami semua melarang untuk nyebrang. “Arus sangat deras, dek“, demikian mereka beragumen. “Saya aja yang rumahnya di depan ‘gak berani nyebrang“, kata seorang bapak sambil menujuk ke ujung seberang genangan.
Namun sama seperti ibu, tekadku juga sudah bulat untuk nyebrang. Setelah sebelumnya pamit dengan mencium tangan Bapak yang nampak was-was, segera kulangkahkan kaki memasuki bibir genangan. Bismillahitawakaltu ‘alallah.. “Hati-hati, Ma!”, seru bapak.
Melihat aku sudah masuk kegenangan, salah satu relawan yang tadi tampak ragu-ragu menyusulku. Belakangan aku tahu bahwa ternyata dia juga memiliki 3 orang kerabat yang terjebak dua hari di komplek yang sama dengan tujuanku. (bersambung)
suaminya Nuril ya Pak ?
ITS angkatan 2000 ?
salam ya Pak, dari suroi, TI ITS 2000